Warung semi permanen berdiri tanpa izin di kawasan RSUD Dr. Soedomo Trenggalek

Warung semi permanen berdiri tanpa izin di kawasan RSUD Dr. Soedomo Trenggalek



Pemerintah Kabupaten Trenggalek tampaknya masih kebingungan dalam menertibkan pedagang liar yang ada di kawasan RSUD Dr. Soedomo Trenggalek. Pasalnya, hingga saat ini pemkab belum memiliki rencana seperti apa dalam menertibkan para pedagang di lahan aset daerah.

Kepala Badan Keuangan Daerah (BAKEUDA) Trenggalek Agus Yahya mengatakan, sebenarnya Pemerintah telah bergerak cepat dalam menertibkannya. Namun untuk saat ini BAKEUDA  bersama pihak terkait seperti RSUD Dr. Soedomo, Pemerintah kelurahan setempat masih sebatas menggelar rapat terkait hal tersebut. Dari rapat itu disampaikan, pihaknya akan menertibkan bangunan di wilayah aset daerah tersebut.

Selain itu BAKEUDA bersama OPD terkait telah melakukan pengecekan di lokasi. Hasilnya, dipastikan ada delapan pedagang yang telah membangun warung semi permanen di lokasi tersebut. Mereka membangun warung tersebut tanpa disertai izin dari pemerintah. Tidak ada yang memberi izin mereka berdagang disitu, sebab datang begitu saja.

“Untuk itu dalam waktu dekat ini pemerintah akan segera menertibkannya. terkait cara menertibkan sendiri belum ada kebijakan khusus terkait hal ini, apakah direlokasi ke tempat lain, dibuatkan food court, atau yang lain. Sebab terkait hal itu harus diputuskan bersama melalui rapat,” terang Kepala Badan Keuangan Daerah Trenggalek Agus Yahya, Senin (24/06/19).

Hal tersebut dilakukan mengingat adanya wacana pengembangan RSUD, yaitu dengan membangun tempat semacam kantin yang saat ini belum ada. Sehingga selain di lokasi tersebut, nantinya pedagang yang selama ini berdagang di area jalan Dr. Soetomo, khususnya tepat di depan RSUD akan ikut ditata.

“Ada kemungkinan pemerintah memiliki rencana lain terkait aset tersebut. Penataan pedagang di tempat tersebut harus melibatkan banyak pihak,. Intinya jika mereka menempati aset daerah maka harus mematuhi aturan yang ada seperti membayar retribusi dan sebagainya,”kata  Agus Yahya.


End of content

No more pages to load