Anggota DPR RI Asal Surabaya Ini Bantah Ekonomi Menurun Dampak dari Perang Dagang AS-China

Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra Bambang Haryo
Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra Bambang Haryo

SUMENEPTIMES, SURABAYA – Selasa (11/6) pemerintah menghadiri rapat paripurna di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI untuk menyampaikan tanggapan terhadap pandangan fraksi atas kerangka ekonomi makro dan pokok kebijakan fiskal RAPBN 2020. 

Dalam rapat, anggota DPR RI dari fraksi Partai Gerindra Bambang Haryo mengatakan pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution terkait ekonomi Indonesia adalah hal yang tidak tepat.

"Menteri Keuangan mengatakan ekonomi turun gara-gara perang dagang, kami tidak sependapat dengan hal ini," kata Bambang Rabu (12/6/2019) kepada SurabayaTIMES.

 Dia menjelaskan dari perang dagang AS-China tersebut ada banyak industri manufaktur di China yang terdampak dengan adanya pajak impor yang diberlakukan Amerika sebesar 30 persen. Hal ini membuat pabrik atau industri manufaktur pindah ke negara Asia Tenggara (Vietnam, Kamboja hingga Malaysia) yang sudah mengambil kesempatan karena negara Asia Tenggara tidak masuk dalam ritual yang dilakukan oleh Amerika, termasuk Indonesia.

 “Tapi kenapa Indonesia tidak memanfaatkan peluang tersebut.” Menurut dia Indonesia seharusnya bisa menangkap kesempatan ini.

"Pemerintah harus bisa memanfaatkan ini, kalau dilihat dari data _www.bbc.co.id_ Vietnam saja kuartal I-2019 industrinya meningkat 86% dimana lima puluh persennya bersumber dari China akibat imbas dari perang dagang (trade war)," ujar pria asal Surabaya ini.

Bambang menyebut, DPR tidak sependapat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Sri Mulyani dan Darmin terkait ekspor Indonesia yang mengalami penurunan juga pertumbuhan ekonomi akibat perang dagang AS-China.

 Menurut dia, sebenarnya perang dagang tersebut mengorbankan China tetapi memberi peluang terhadap negara ASEAN termasuk Indonesia. Vietnam saat ini hanya mempunyai 14 juta tenaga kerja sedangkan Indonesia memiliki 200 juta tenaga kerja serta bahan baku yang cukup banyak. Jadi sebenarnya peluang Indonesia lebih besar daripada Vietnam. 

Bila dikatakan perang dagang AS-China penyebab ekspor Indonesia menurun sebenarnya tidak benar karena ekspor Indonesia ke Amerika mengalami kenaikan. “Saya sampaikan, tahun 2014 nilai ekspor Indonesia ke AS sebesar 16 milyar USD dan di tahun 2018 mencapai 18,4 milyar USD. Sedangkan ekspor Indonesia ke China 2012 sebesar 18,4 miliar USD. Di 2018 mencapai 27,13 miliar USD. 

”Jadi apa yang dikatakan Menkeu dan Menko Ekuin itu adalah tidak benar, ini pembohongan terhadap masyarakat, ini hoax," ujar dia.

Pewarta : M. Bahrul Marzuki
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Surabaya TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sumeneptimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sumeneptimes.com | marketing[at]sumeneptimes.com
Top