Polemik Mutasi Direktur RSUD Kanjuruhan (8)

Direktur RSUD Kanjuruhan : Saya Ikhlas, Kita Bicara Masa Depan Rumah Sakit Saja

Marhendrajaya Direktur RSUD Kanjuruhan (2 dari kanan) bersama Prof Djanggan Sargowo dalam acara persiapan RS Pendidikan (Nana)
Marhendrajaya Direktur RSUD Kanjuruhan (2 dari kanan) bersama Prof Djanggan Sargowo dalam acara persiapan RS Pendidikan (Nana)

SUMENEPTIMES, MALANG – Sejak bergulirnya petisi ratusan karyawan RSUD Kanjuruhan Kepanjen serta berbagai komentar dari kalangan masyarakat terkait pergantian direktur rumah sakit berplat merah di Jalan Panji tersebut yang ditunggu-tunggu tentu komentar dari Mantan Direktur RSUD Kepanjen Mahendrajaya.

Maklum, ia merupakan sosok yang belakangan dianggap sukses memimpin RSUD Kepanjen hingga para karyawan tidak mau posisinya digantikan oleh Abdurachman yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Malang. 

Sosok yang dipertahankan ratusan karyawan RSUD Kanjuruhan dikarenakan kemampuan dan komitmennya membangun itu, terkesan menghindar dari polemik.

Marhendrajaya kepada MalangTIMES, bahkan menyampaikan dirinya sama sekali tidak mengetahui terkait adanya dukungan besar ratusan karyawan melalui petisi beberapa hari lalu.
"Saya bahkan tidak mengetahui hal tersebut. Karena saya sedang fokus pada bagaimana rencana pembangunan rumah sakit bisa selesai tahun ini. Selain itu saya disibukkan persiapan Rumah Sakit Pendidikan di Kanjuruhan ini," ucap Marhendrajaya, Rabu (12/06/2019).

Dirinya juga secara tegas tidak ingin larut dalam persoalan tersebut. 

Bagi Marhendrajaya, persoalan pergantian pemimpin di RSUD Kanjuruhan, adalah ranah Bupati melalui Plt Bupati Malang Sanusi.

"Jadi saya pribadi ikhlas dengan kebijakan itu. Persoalan adanya petisi karyawan, saya pikir itu murni lahir dari nurani mereka. Saya tidak bisa melarang apalagi menganjurkan itu. Terus terang saya memang kaget juga soal ini menjadi ramai," ujarnya yang meminta kepada MalangTIMES untuk berbicara hal lainnya.

"Kita bicara masalah lain saja ya...misalnya terkait Rumah Sakit Pendidikan," imbuh Marhendrajaya membelokkan pembicaraan.

Marhendrajaya memahami bahwa persoalan perpindahan jabatan menjadi terbilang sensitif bila terus menerus dipersoalkan. 

Sehingga dirinya sebagai seorang ASN berusaha untuk tidak larut dalam persoalan tersebut. 

Bahkan saat disinggung terkait karyawan RSUD Kanjuruhan yang bisa saja dikenakan sanksi oleh Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Malang. 

Pemilik beberapa klinik di berbagai kota ini mengatakan, menyerahkan hal tersebut kepada pihak berwenang atas masalah tersebut tersebut.

"Sekali lagi saya ikhlas ditempatkan di mana saja. Harapan saya dimanapun saya mengabdi, kondisi RSUD Kanjuruhan ini akan semakin baik. Apalagi dengan berbagai pembangunan yang sedang berjalan dan telah disiapkan seluruh pihak di sini," tegasnya yang juga merasakan haru atas aspirasi ratusan karyawan RSUD Kanjuruhan.

Di kesempatan yang sama Prof Djanggan Sargowo dari Dewan Pengawas Rumah Sakit juga menyampaikan, bahwa petisi yang dilakukan ratusan karyawan berasal dari aspirasi bawah dan hati nurani mereka.

Sehingga tentunya bila memang ada sanksi terkait hal tersebut tentunya perlu dipertimbangkan. 

"Walaupun itu hak Bupati. Tapi bicara profesi dokter tentunya perlu adanya pertimbangan dan diskusi untuk hal itu. Kami akan coba fasilitasi terkait persoalan ini," ucap Djanggan setelah memberikan arahan terkait persiapan Rumah Sakit Pendidikan di RSUD Kanjuruhan.

Lepas dari polemik tersebut, kepemimpinan Marhendrajaya sebagai direktur RSUD Kanjuruhan yang terbilang singkat, yaitu 8-9 bulan namun telah membekas dalam di hati karyawan. 

Dimana, berbagai kebijakannya telah membawa rumah sakit plat merah di Jalan Panji ini kembali menggeliat. 

Bahkan, dari beberapa karyawan lainnya disampaikan, atas berbagai upaya Marhendrajaya pula yang hanya 8-9 bulan memimpin RSUD Kanjuruhan bisa bangkit lagi setelah mengalami keterpurukan sampai bertahun-tahun.

"Hak kami pun ada peningkatan setelah adanya beliau. Bahkan jaminan kesehatan (BPJS) pun yang bertahun lalu tidak dimiliki karyawan sudah dimiliki semuanya. Terpenting beliau mampu merangkul kita semua untuk bangkit membangun rumah sakit ini," ujar salah satu karyawan yang tidak berkenan disebut namanya itu.

"Maka wajar saja kami memohon agar beliau dipertahankan di sini," pungkasnya.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sumeneptimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sumeneptimes.com | marketing[at]sumeneptimes.com
Top