Camilan Sehat yang Cocok untuk Anak Autis Buatan Mahasiswa UM

Sunsya Putri Cahyaning Gusti (S1 Pendidikan Tata Boga) dan Luqyana Dhiya Amira (S1 Pendidikan Luar Biasa). (Foto: Humas)
Sunsya Putri Cahyaning Gusti (S1 Pendidikan Tata Boga) dan Luqyana Dhiya Amira (S1 Pendidikan Luar Biasa). (Foto: Humas)

SUMENEPTIMES, MALANG – Autis atau penderita autisme biasanya memiliki gangguan dalam hal interaksi sosial dan komunikasinya. Autisme dapat  terjadi pada siapa saja. Tidak mengenal etnis, bangsa, ekonomi, bahkan keadaan intelektual dari orang tua.  

Dalam berbagai aspek, anak autis memiliki batasan-batasan untuk membantu diri mereka agar lebih terkontrol dengan baik. Batasan yang diberikan tidak hanya dalam hal bermain dan beraktivitas, namun juga dalam hal makanan.

Makanan yang salah akan mengakibatkan gangguan tingkah laku yang tidak normal yang membuat anak autis tidak mampu memusatkan perhatian atau hiperaktif.

Untuk diketahui, sebagian besar anak  autis mengalami reaksi alergi dan intoleransi  terhadap makanan dengan kadar gizi tinggi. Alergi ini dapat memperburuk kondisi anak autis. Gejala alergi pangan yang timbul pada anak autis misalnya, sakit perut, sakit kepala, menangis berlebihan, sensitif terhadap suara yang didengar, dan mengalami depresi yang memicu terjadinya kondisi hiperaktif dan agresif pada anak.

Dua alergen utama adalah gluten dan kasein. Gluten adalah protein yang banyak terkandung dalam padi-padian seperti gandum. Sedangkan kasein adalah protein yang terkandung pada produk peternakan, terutama susu.

Atas dasar inilah 2 mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), yaitu Sunsya Putri Cahyaning Gusti dari jurusan S1 Pendidikan Tata Boga dan Luqyana Dhiya Amira dari Jurusan S1 Pendidikan Luar Biasa menggagas asupan bergizi bagi anak autis.

Asupan bergizi buatan 2 mahasiswa tersebut berupa makanan cookies yang dibuat khusus untuk anak autis dan tanpa kandungan glutein dan casein. "Kandungan glutein dan casein pada makanan dapat memicu kerja fisik yang berlebih pada anak autis. Sehingga masyarakat khususnya orang tua terbantu dengan adanya camilan khusus anak autis," ujar Sunsya.

Ia berharap produk tersebut dapat mengedukasi masyarakat mengenai jenis makanan yang tidak boleh dikonsumsi penderita autisme. "Kami harap dengan adanya produk ini dapat mengedukasi masyarakat khusunya orang tua bahwa makanan yang mengandung glutein dan casein sangat tidak dianjurkan bagi anak autis," ungkapnya.

Kini produk cookies tersebut sudah dipasarkan dan mulai dikenal banyak orang. Selain itu, beberapa waktu yang lalu mereka berhasil meraih juara 1 dalam kompetisi Gapai Indonesia Conference pada kategori National Social Project Challenge (NSPC) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Sunsya memaparkan rangkaian kegiatan pada kompetisi melibatkan beberapa kampus besar. 

“Proses awal itu mengirimkan proposal terlebih dahulu, karena dikonsep seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Saat dinyatakan lolos dan memasuki babak grandfinal, kita bersaing dengan 10 finalis  perguruan tinggi bergengsi seperti UGM, UI, ITB, UB, UNNES, dan lain-lain. Rangkaian acara pada kompetisi juga tidak hanya presentasi karya namun juga terdapat kegiatan yang menyadarkan kita untuk peduli dengan anak disabilitas” pungkasnya. 

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : A Yahya
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sumeneptimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sumeneptimes.com | marketing[at]sumeneptimes.com
Top