Dalami Kasus Money Politic, Bawaslu Panggil Terduga Pelaku dan Saksi

ilustrasi penghitungan suara, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
ilustrasi penghitungan suara, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

SUMENEPTIMES, MALANG – Setelah pesta demokrasi resmi digelar pada  17 April lalu, penyelenggara kini disibukkan dengan serangkaian agenda penghitungan suara. Selain itu, Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) Kabupaten Malang juga disibukkan menangani kasus pelanggaran saat proses pemilu (Pemilihan Umum) dan Pileg (Pemilihan Legislatif) 2019.

Merujuk pada pemberitaan sebelumnya, perayaan pesta demokrasi ternodai ulah oknum caleg (Calon Legislatif) dari Partai Demokrat  beserta punggawa tim suksesnya. Yakni kasus money politic yang terjadi di wilayah Kecamatan Turen, Selasa (16/4/2019) lalu.

Dari pendalaman Malangtimes.com, kedua oknum yang melakukan praktik kecurangan tersebut diduga Caleg DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Malang Dapil (Daerah Pilihan) II yang meliputi wilayah Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit, dan Turen. Yakni Tono ST selaku nomor urut satu dari partai Demokrat.

Sedangkan satunya, adalah Caleg DPR RI nomor urut 3 dari partai Demokrat. Yakni Nur Seto Budi Santoso. Pihaknya terdaftar dari Dapil V yang meliputi wilayah Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu.

Info terkini, Bawaslu Kabupaten Malang menindak lanjuti kasus politik uang ini, dengan melakukan panggilan kepada yang bersangkutan pada Senin (22/4/2019) pagi. Agendanya, pada hari ini tadi sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Namun hingga pukul 14.00 WIB, keduanya terpantau belum mendatangi undangan yang dilayangkan Panwaslu Kecamatan Turen, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman.

“Selain memanggil kedua Caleg, kami juga memanggil beberapa saksi guna mengungkap kasus bagi-bagi uang saat hari tenang tersebut,” kata Anggota Panwascam Turen, Hari Sulistyono saat ditemui di sela-sela agenda pemanggilan saksi.

Pihaknya menambahkan, terungkapnya kasus ini bermula dari laporan beberapa saksi, jika ada pembagian “mahar” kepada calon pemilih. Modusnya, melalui tim suksesnya yang berinisial JA, dengan sengaja membagikan amplop berisikan uang yang disebarkan di beberapa daerah di Kecamatan Turen. Salah satunya di Desa Pagedangan. “Di tempat itu, terjadi praktik money politic yang membagikan uang sejumlah Rp 40 ribu. Rinciannya uang nominal Rp 5 ribu empat lembar dan Rp 20 ribu satu lembar,” terang Hari.

Selain terjadi di Desa Pagedangan. Insiden serupa juga terjadi di wilayah Desa Sedayu Kecamatan Turen. Di kawasan tersebut, praktek bagi-bagi “amplop” tendensius itu, terpantau nominalnya lebih besar. Yaitu Rp 70 ribu dengan rincian uang pecahan nominal Rp 20 ribu satu lembar, dan uang pecahan nominal Rp 50 ribuan satu lembar. “Kasus ini masih dalam tahap pendalaman dan pengembangan, selain Panwascam Turen kami juga berkolaborasi dengan Bawaslu Kabupaten Malang,” pungkasnya.

Pewarta : Ashaq Lupito
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sumeneptimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sumeneptimes.com | marketing[at]sumeneptimes.com
Top